William Hill App_The strongest baccarat play_Online betting URL

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Negara yang legal untuk perjudian online

MeFootball HaFootball Handicap Analysisndicap Analysisreka Football Handicap Analysispasti terkhianati karena merasa tak cukup dipercaya olehmu untuk menerima hal yang sebenarnya. Padahal meskipun kebenaran itu buruk adanya, paling tidak kalian tak harus berpura-pura di depan satu sama lain dan bisa langsung mulai bekerja menuju solusinya. Dibanding harus terus berputar-putar tanpa arah dalam kebohonganmu

Pakai juga kacamata orang lain untuk solusi terbaik via unsplash.com

“Mereka berdua itu bikin gue nggak selera kerja aja sih. Nggak punya tempat pacaran lain apa?”

Kalau nggak mau diomongin orang ya jangan ngomongin orang. Ungkapan ini nggak ada salahnya, tapi ada yang lebih tepat lagi, kalau nggak mau diomongin orang yang jangan melakukan hal yang mengundang mereka untuk ngomongin kamu dong. Mau pacaran ya tolong di tempat yang private aja. Di tempat wisata rame yang kamu nggak kenal sama orang-orangnya juga silahkan, tapi jangan di sekolah atau di kantor misalnya. Kasihan yang jomblo lain, jadi nggak selera belajar ataupun bekerja gara-gara yang kayak gitu. Boleh berdua, tapi ada batasnya. Secuek-cueknya orang lain, ada titip dimana mereka akan jengah juga.

Komunikasi itu sebuah seni. Setidaknya, kalaupun kamu tidak mendapatkan ilmu itu di bangku formal, belajarlah peka dari sekitar. Jangan jadi egois dan menganggap dirimu pusat dari semesta ini. Saat kamu tengah berbicara panjang lebar misalnya, pikirkan juga ketika kamu ada di posisi mereka. Apa mereka nggak lelah mendengarmu berbicara? Apa mereka nggak berharap untuk ditanya? Ketika dalam kelompok, ada seorang atau dua orang anggota yang menawarkan diri mengerjakan tugas saat kamu tak bisa dan ternyata hasilnya salah, apa kamu pantas marah? Toh kamu sendiri tak ada di tempat waktu itu. Pikirkan juga perasaan orang lain ya, belajar berempati itu perlu.

“Iya, makin hari kok makin kaya kembar siam gitu ya mereka?”

Pamer dan sombong, sesekali mungkin setiap orang pernah melakukannya. Entah sengaja atau tidak. Walau terlihat mirip, namun ternyata keduanya berbeda. Jika pamer selalu memberi tahu orang lain tentang benda atau barang atau apapun yang mereka punya, sombong lebih pada adanya sesuatu sebagai pembandingnya. Dengan adanya kata “paling” yang mengiringinya. Keduanya mengesankan kamu “lebih” dari temanmu. Jangankan cuma diomongin di belakang, sangat mungkin mereka akan mundur perlahan.

Segala hal itu ada batasnya, termasuk batas waktu menunggu dia. Termasuk keingintahuan seseorang. Kalau mempertanyakan sesuatu, lihatlah kondisinya, lihat dulu konteksnya. Kamu sedang berbicara dengan siapa, seberapa dekat hubunganmu dengannya, pilihan kosakata dan intonasi yang digunakan. Ya, ini tentang seni berkomunikasi. Jangan pula jadi orang yang terlalu mendominasi dengan kecerewetanmu, sesekali jadilah pendengar supaya yang di sampingmu tak merasa diabaikan dan tetap mau berteman.

Berlagak jadi orang yang maha tahu layaknya Google memang beresiko dijauhi. Pun begitu ketika sebaliknya, kalau kamu justru nggak pernah nyambung pas diajak ngobrol ini-itu. Setiap berbincang dengan orang lain, siapapun pasti ingin ditanggapi, mendapat feedback itu hak setiap orang. Lantas apa nggak sebal jadinya kalau setiap ngobrol dengan orang, dia hanya manggut-manggut aja atau malah jawab nggak tahu terus-terusan? Yang salah itu jadi sok pintar, bukan pintar.

Memang nggak semua orang fashionable sih. Tapi sebisa mungkin, berpenampilan dan bersikaplah sesuai tempatnya. Jangan menggunakan pakaian pesta dengan aksesori berlebih untuk outfit ke kantor misalnya, juga jangan mengenakan baju compang camping layaknya gembel. Menjadi berbeda itu memang pilihan, tapi nggak dengan kehilangan teman kan?

Yang namanya manusia itu emang nggak bisa jauh dari gosip. Lihat deh gimana acara gosip mendominasi tv-tv nasional sekarang. Meski beritanya cuma ngikutin artis masak, liburan, atau promosi produk sponsor, acara-acara gosip pasti ratingnya tinggi. Kultur gibah masyarakat kekinian juga tambah menjadi, seiring makin banyaknya media sosial yang bisa jadi ruang bertukar sindiran.

Ya, membicarakan dan dibicarakan orang lain-walau-itu-teman-sendiri agaknya sudah jadi hal lumrah dalam masyarakat sekarang ini. Tapi tetep aja sih, logikanya, nggak akan ada asap kalau nggak ada api. Mereka nggak akan ngomongin kamu, kalau kamu melakukan hal yang normal-normal aja. Melakukan hal buruk dan menyimpang, atau kurang sesuai tempat misalnya. Jadi, kalau kamu tipe orang yang nggak suka dibicarakan hal buruknya di belakang, kurang-kurangin tujuh hal ini ya.. Yuk, diambil dulu cerminnya~

Berbohong itu memang bukan keputusan bijak dalam kondisi apa pun. Kenapa? Karena yang namanya kebenaran itu, tak peduli berapa lama atau bagaimana caranya, pasti terungkap. Terlebih kalau kamu terbiasa berbohong pada teman-temanmu sendiri. Bakal susah untuk terus mempertahankan kebohongan di hadapan orang-orang yang tiap harinya kamu temui. Dibanding buat konflik terbuka dengan mengkonfrontasi kebohonganmu, seringkali teman-temanmu lebih memilih diskusi tanpa sepengetahuanmu.

Perilaku buruk bisa jadi salah satu hal orang lain membicarakanmu di belakang, bahkan menghindarimu kemudian. Menjaga perilaku baik bisa membantumu menjadi orang yang selalu diterima dalam pergaulan. Sebisa mungkin kurang-kurangin hal di atas ya guys. Selamat berbenah!