Baccarat Technology_Baccarat casino advantage_Baccarat Techniques and Strategies

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Negara yang legal untuk perjudian online

Ada 2 jThe only way to win baccaratenis orang Indonesia: yang suka MSG aThe only way to win baccaratLias micin dan yang lebih baik menahan laThe only way to win baccaratpar deh daripada memasukkan makanan ber-MSG ke dalam tubuhnya. Biasanya orang yang menghindari MSG percaya bahwa penyedap rasa ini adalah racun berbahaya. Nggak cuma bisa bikin bodohThe only way to win baccarat, MSG juga disinyalir memicu kemandulan, obesitas, diabetes, sampai kanker. Waduh, serem ya?

Hah? Serius bisa bermanfaat? Omongannya valid nggak nih?

Di tahun 2013, Liputan6 melansir berita bahwa rumah sakit akan menggantikan garam dalam makanan mereka dengan monosodium glutamat. Alasannya, MSG mengandung lebih sedikit natrium dibandingkan garam dapur biasa, menjadikannya penyedap rasa yang lebih aman untuk pasien pengidap hipertensi atau yang harus menghindari garam dalam dietnya.

“Sampai sekarang hubungan antara MSG dan kerusakan retina atau otak sama sekali tidak bisa dibuktikan,” Evan Dreyer, Harvard University

Sebelum termakan isu lebih jauh lagi, yuk pelajari lebih jauh soal MSG. Apakah penyedap rasa satu ini memang berbahaya seperti katanya?

Semoga sekarang sudah jelas kalau bahaya MSG sebenarnya adalah mitos semata. Jadi kalau ada teman kamu yang kelewatan begonya, jangan salahin MSG lagi ya — mungkin teman kamu memang lemah akal dan tulalit dari sananya? Hehe.

“Yah… Kalau gitu nggak jadi aja deh. Makasi ya Mang…”

Batas maksimal konsumsi MSG yang direkomendasikan WHO adalah 6 gram per hari. Sementara, Menkes RI merekomendasikan batas aman MSG sebanyak 5 gram. Rata-rata orang Indonesia hanya mengkonsumsi 0,65 gram MSG setiap harinya — sangat sedikit dibandingkan batas maksimal 5 atau 6 gram tersebut. Jadi kita sebenarnya nggak perlu khawatir, karena kans kita untuk makan terlalu banyak MSG kecil sekali.

Sebenarnya ini gara-gara beberapa penelitian yang keabsahannya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Contohnya, ada penelitian di tahun 2002 di mana tikus-tikus percobaannya menjadi buta setelah disuntik MSG. Usut punya usut, dosis MSG yang disuntikkan ke tikus-tikus ini sangat tinggi, yaitu 20 gram/100 gram makanan tikus. Ada juga penelitian tahun 1969 yang mengklaim bahwa MSG merusak jaringan otak. Lagi-lagi, MSG yang disuntikkan ke tikus-tikus percobaan oleh para peneliti sangat banyak: 4 gram/kg berat badan.

MSG adalah garam sodium dari asam glutamat. Memang sih, kristal putih MSG yang dijual sachetan itu pabrikan, tidak alami seperti glutamat dalam tomat atau jamur. Tapi jangan curiga dulu — nggak semua hal yang buatan pabrik itu buruk. Lagipula, tubuh kita sebenarnya tak bisa membedakan yang mana yang glutamat alami dan yang mana yang MSG. Efeknya terhadap tubuh kita sama, begitu pula proses tubuh dalam mencernanya.

Terus kok bisa sih ada mitos kalau MSG berbahaya?

Tak perlu takut lagi pada isu kesehatan yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Faktanya, MSG memang hanya garam penyedap rasa, bukan racun penyebab penyakit mematikan sebagaimana yang selama ini kita percaya.